Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • didit.subaweh10 7:19 pm on 14 September 2010 Permalink | Reply  

    Isi Kehidupan 

    Pengalaman ini dialami langsung oleh teman dekat saya, Dafik. Ketika itu ia masih duduk di bangku SMP. Setiap pagi seperti biasa sang ayah membangunkannya pagi-pagi sekali. Ayahnya memang mengajarkannya untuk bangun pagi sejak kecil agar menjadi orang disiplin, katanya. Kalau ia bangun siang, ayahnya sering memarahinya.

    Kedua orangtuanya adalah seorang pedagang kecil-kecilan di pasar, dengan dagangan seadanya. Kala musim mangga, jualan mangga, ada jagung jualan jagung, kadang pisang, kadang juga kacang, dan lainnya. Pagi-pagi sekali mereka menyiapkan barang dagangannya, dan Dafik mempersiapkan untuk berangkat sekolah. Ibunya jarang menyediakan sarapan pagi, karena sibuk menyiapkan dagangannya. Ia malah menyuruh Dafik untuk membeli makanannya sendiri di warung, bahkan bahkan kadang hampir telat ke sekolah gara-gara mengantri di warung.

    Hal ini dialami Dafik dalam kesehariannya, tetapi ia tidak pernah mengeluh apalagi larut dalam kesedihan. Dafik mengerti bahwa keluarganya hanyalah bagian kecil dari kebahagiaannya di dunia. Walaupun kondisi ekonomi keluarga Dafik hanya mampu mencukupi kebutuhan ia dan kedua adiknya, serta kedua orang tuanya, namun Dafik selalu memberikan yang terbaik. Pernah terbersit dalam benaknya untuk apa ia melakukan semua ini, bangun pagi-pagi sekali, mengurus adik di rumah, bahkan pekerjaan rumah pun ia yang kerjakan. Setiap kali memikirkan hal itu, ia ingat apa yang dikatakan oleh ayahnya, “Garis hidup sesorang memang sudah ditentukan, termasuk adanya orang kaya dan miskin. Walaupun begitu akankah orang kaya tetap kaya dan orang miskin tetap miskin kelak? Hal-hal yang kau kerjakan hari ini akan menjawab keingintahuanmu itu.”

    Kata-kata ayahnya membangun karakter baru dalam diri Dafik. Kali kini dia mengerti, mengapa kedua orang tuanya bersikap disiplin dan keras. Itu semua dilakukan agar Dafik menjadi orang yang sukses yang membenci kemiskinan, sehingga kelak jika sudah besar nanti ia dapat membantu saudara-saudaranya yang mengalami hal serupa sewaktu ia kecil.

     
  • didit.subaweh10 7:17 pm on 14 September 2010 Permalink | Reply  

    Mabuk Bikin Masalah 

    Suatu ketika, ada seorang businessman yang menghadiri pesta sampai mabuk. Businessman ini tahu bahwa di tempatnya tinggal ada hukuman berat bagi orang-orang yang melakukan drink-driving (menyetir dalam keadaan mabuk) tapi malam itu, si businessman mencoba peruntungannya, siapa tahu ia tidak dicegat polisi di jalan.

    Namun sialnya, ternyata malam itu semua kendaraan di jalanan yang dilalui oleh si businessman diperiksa polisi. Tidak mungkin baginya untuk kabur karena kendaraan lain sudah mengantri di belakang kendaraannya. Dengan was-was ia menunggu gilirannya.

    Tatkala gilirannya tiba, oleh polisi ia dipersilahkan untuk keluar dari mobilnya. Lalu, ia diberikan sebuah alat tes kadar alkohol serupa alat tiup untuk menguji kadar alkohol dalam nafasnya. Tepat ketika ia baru hendak menghembuskan napasnya ke dalam alat itu, tiba-tiba terdengar suara berdentum di belakang. Ternyata ada mobil yang menabrak mobil lainnya. Segera polisi mengambil kembali alat tes itu seraya berkata, “Lebih baik kami mengurusi tabrakan itu daripada mengurusi kamu. Sekarang, kamu pulang saja!”. Dengan perasaan plong, ia segera tancap gas untuk pulang.

    Keesokan paginya, ketika masih enak-enaknya tidur di kasur nan empuk, ia mendengar bel pintu rumahnya didering berkali-kali tanpa putus. Dengan perasaan jengkel, ia bergegas turun ke lantai bawah, lalu membuka pintu depan. Alangkah kagetnya businessman itu tatkala melihat dua orang polisi berbadan besar berdiri di depan pintu rumahnya itu. Tapi si businessman berpikiran, “Kan aku tidak berbuat kesalahan apapun. Jadi ngapain aku takut?”

    Disapanya kedua polisi itu, “Yes, can I help you, Sir?” (“Ya, ada yang bisa saya bantu, Pak”). Salah satu polisi itu menjawab, “Apa kami bisa melihat garasi pintu Anda?”. “Tentu saja!” jawab si businessman. Tatkala businessman ini membukakan pintu garasi mobilnya, hampir saja jantungnya copot. Di dalam garasinya itu, ternyata yang didapatinya bukan mobil miliknya, namun mobil polisi. Rupa-rupanya, malam sebelumnya, ketika diminta polisi untuk pulang, karena mabuk, bukannya ia masuk ke dalam mobilnya sendiri, tapi malahan ia masuk ke dalam mobil polisi.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel